Di Hadapan AHY, Merry Riana Bilang Dia Masuk Partai Demokrat dari Posisi Tripple Minority

BANDUNG– Motivator kenamaan Merry Riana mengaku senang punya rumah baru bernama Partai Demokrat. Dia makin senang karena ikut serta juga 48 tokoh lain Tionghoa.

Merry Riana selama ini dikenal sebagai motivator dengan jutaan pengikut. Akun YouTube dia diikuti lebih 4,4 juta orang. Setiap tayangannya terkadang ditonton lebih dari 9 juta kali.

“Hari ini saya bersama 48 rekan komunitas Tionghoa memulai sebuah babak baru. Babak yang lahir dari niat baik. Babak yang dibangun oleh harapan baik. Babak yang saya percaya… akan membawa dampak baik,” begitu ungkapan Merry Riana di media sosialnya, Senin (9/2/2026).

Di kantor DPP Partai Demokrat, Jl Proklamasi, Jakarta, saat itu Merry Riana dkk resmi dapat kartu tanda anggota (KTA) Partai Demokrat. Prosesi dipimpin langsung Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Turut hadir para pejabat utama DPP Partai Demokrat. Antara lain, Herman. Khaeron (Sekjen), M. Iftitah Sulaiman Suryanegara (kepala Bappilu), dan Ossy Dermawan (kepala BPOKK). .

Keputusan melangkah masuk ke Partai Demokrat, papar Merry, dilakukan dengan proses panjang. Juga penuh perhitungan.

“Perjalanan ini bukan keputusan instan. Saya mengenal Ketum AHY 14 tahun yang lalu, sejak tahun 2012, dan dalam satu tahun terakhir saya belajar lebih dekat,” ujar Merry yang juga jadi staf khusus di Kemenko Infrastruktur.

Dia lantas menyebut pemimpin yang baik bukan yang merasa paling hebat, tetapi yang terus mau belajar, rendah hati, dan berintegritas. Gambaran itu di mata dia ada dalam diri AHY.

“Sejujurnya, dulu saya tidak pernah membayangkan masuk ke dunia politik. Dunia saya adalah bisnis, pendidikan, dan pengembangan diri,” tambahnya.

Namun hidup, lanjutnya, telah mengajarkan dia bahwa ada perubahan yang membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Ia membutuhkan sistem, kebijakan, dan keberanian untuk mengambil keputusan yang berdampak luas.

Dia makin terkesan karena ada proses panjang yang diberikan AHY dan Demokrat. Menurutnya Demokrat memberi ruang. Demokrat memberi waktu. Dan, Demokrat menghormati proses.

“Tidak ada paksaan. Tidak ada tekanan. Apalagi transaksional,” tandasnya.

Wanita kelahiran 19 Mei 1980 ini juga mangaku yakin keputusannya tepat. Apalagi dia datang dari kelompok minoritas.

“Saya juga datang dengan identitas yang sering disebut “triple minority”: saya perempuan, saya non-Muslim, saya keturunan Tionghoa,” ucapnya.

Namun dia percaya diri bahwa statusnya itu adalah kekuatan. Dia merasakan bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan kekuatan. “Karena Demokrat bukan hanya bicara tentang inklusif, tetapi mempraktikkannya,” jelas dia.

Ber-KTA Demokrat, paparnya, bukan sekadar kartu identitas. Itu adalah komitmen. Komitmen tiada akhir. “Komitmen untuk berniat baik, mengikuti pemimpin yang baik, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan baik… demi tujuan yang baik: Indonesia yang lebih baik,” kata Merry Riana. (R-03)

Leave a Reply