Anton Bilang Ini Soal Tragedi Latsarmil Calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih

BANDUNG– Duka cita mendalam disampaikan Anton Sukartono Suratto atas berpulangnya lima peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Mereka meninggal saat mengikuti latihan dasar militer (Latsarmil) yang diselenggarakan Kemenhan RI.

“Saya menyampaikan duka cita yang mendalam kepada pihak keluarga peserta SPPI yang berpulang. Niat mulia mereka untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan dan memberikan kontribusi bagi bangsa adalah semangat yang harus kita hormati,” jelas Anton di Jakarta, Jumat, (26/6/2026).

Wakil ketua Komisi I DPR RI ini menilai program pembinaan karakter dan bela negara ini memiliki tujuan positif. Yakni mempersiapkan para peserta jadi calon manajer koperasi desa merah putih (KDMP) dan kampung nelayan merah putih (KNMP).

Sebelum menjalankan tugas, mereka terlebih dulu dilatih aspek kepemimpinan, kedisiplinan, meningkatkan nasionalisme, dan kapasitas manajerial. Sebuah program yang sangat baik.

“Namun, kejadian yang menimpa peserta harus menjadi pengingat bahwa keselamatan jiwa warga negara adalah prioritas tertinggi yang tidak bisa dikompromikan,” jelas Anton.

Oleh sebab itu, Anton yang juga ketua DPD Partai Demokrat Jabar ini mendorong adanya evaluasi menyeluruh. Mulai dari tahap pemeriksaan administrasi, persyaratan, hingga pelaksanaan Latsarmil.

“Pertama, pemeriksaan kesehatan bagi peserta sipil harus diperketat, tidak boleh sekadar memenuhi syarat formalitas,” tandas Anton.

Ditegaskan, pemeriksaan kesehatan bukan lagi sekedar memiliki surat sehat. Tetapi harus benar-benar dilakukan secara mendetail di rumah sakit. Pemeriksaan medis komprehensif, mulai dari fungsi jantung, tekanan darah, serta riwayat penyakit bawaan sebelum mereka diizinkan mengikut Latsarmil.

“Hanya peserta yang benar-benar sehat dan layak secara medis yang boleh mengikuti latihan fisik berat,” tambah Anton.

Wakil rakyat dari dapil Jabar V ini juga minta ada penyesuaian kurikulum dan modul latihan agar lebih ramah sipil. Dengan begitu bisa mempertimbangkan batas kemampuan fisik peserta serta faktor lingkungan eksternal seperti cuaca ekstrem. Sebab mereka tidak disiapkan jadi tentara.

“Modul pelatihan sebaiknya mengurangi aktivitas fisik dan luar ruangan dan difokuskan pada aktivitas dalam ruangan yang membangun kedisiplinan, kepemimpinan, dan kemampuan manajerial,” jelas Anton.

Anton juga menekankan, pengetatan standar prosedur medis, seperti memastikan ketersediaan dokter, ambulans, dan kerja sama dengan fasilitas kesehatan terdekat.

Hal ini, bagi Anton, penting agar jika ada kejadian tidak terduga. Kemudian setiap korban dapat segera ditangani dalam waktu golden hour. Dengan begitu peluang keselamatan akan dapat dimaksimalkan.

“Saya berharap kejadian ini dapat ditangani dan diinvestigasi dengan sebaik-baiknya sesuai prosedur yang berlaku,” papar Anton.

Anton juga menegaskan bahwa Komisi I DPR RI akan terus mengawal proses ini hingga tuntas. Kemudian akan memastikan adanya perbaikan sistem yang benar-benar dijalankan.

“Tujuannya demi menyempurnakan program ini ke depan,” kilah Anton. (R-03)

Leave a Reply