BANDUNG– Pemprov Jabar baru saja menggelar puncak Hari Jadi Tatar Sunda. Di momen istimewa tersebut hadir para tokoh nasional, termasuk Anton Sukartono Suratto.
Anton yang juga ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Jawa Barat ikut larut dengan ribuan warga di area Gedung Sate, Kota Bandung, Sabtu malam (19/5/2026). Wakil ketua Komisi I DPR RI itu hadir bersama sejumlah menteri dan anggota DPR.
“Budaya Sunda memiliki nilai historis dan filosofi yang harus terus dijaga serta dikenalkan kepada generasi muda,” ujar Anton Sukartono Suratto di sela kegiatan.

Selain Anton, semua anggota Fraksi Partai Demokrat (FPD) di DPRD Jabar juga hadir lengkap. Termasuk dr Ratnawati selaku ketua FPD dan juga bendahara DPD Partai Demokrat Jabar.
Di jajaran anggota DPR RI, selain Anton tampak Dede Yusuf Macan Effendi, TB Hasanuddin, dan. Dadang M. Naser. Sementara anggota Kabinet Merah Putih, antara lain, ST. Burhanudin (jaksa agung), Maman Abdurahman (menteri UMKM), Msruara Sirait (menteri perumahan dan kawasan permukiman).
Lainnya para bupati dan walikota di Jabar. Lalu para seniman dan budayawan, termasuk perwakilan para raja dan tokoh adat Nusantara. Mantan Ibu Negara, Hj Sinta Nuriyah Abdurahman Wahid juga hadir.
Acara puncak menghadirkan pertunjukan kolosal yang mengangkat narasi sejarah dan identitas budaya Sunda dengan melibatkan berbagai unsur seni, mulai dari teater, musik tradisional, hingga tata visual panggung. Kehadiran tokoh masyarakat, pegiat budaya, serta unsur pemerintahan dan organisasi turut mewarnai jalannya kegiatan.

Drama “Pajajaran Gugat” menampilkan kisah yang merefleksikan semangat perjuangan, identitas, dan perjalanan peradaban Sunda. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Tatar Sunda yang setiap tahunnya diisi dengan kegiatan budaya dan edukasi masyarakat.
Menurut Anton, ruang-ruang kebudayaan seperti ini memiliki peran penting dalam memperkuat karakter bangsa melalui pendekatan seni dan sejarah lokal. “Kegiatan budaya bukan hanya pertunjukan, tetapi juga sarana edukasi dan penguatan jati diri masyarakat,” ujarnya.
Pelaksanaan acara berlangsung dengan antusiasme masyarakat yang memadati lokasi pertunjukan untuk menyaksikan drama kolosal tersebut. Selain menjadi ruang apresiasi seni, kegiatan ini juga dinilai mempererat keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam menjaga warisan budaya Sunda di tengah perkembangan zaman. (R-03)


